Agar tidak rancu, keterbukaan informasi harus didukung kesempurnaan media

Agar tidak rancu, keterbukaan informasi harus didukung kesempurnaan media

Sebagai media informasi, website menjadi media yang paling banyak digunakan oleh perusahaan dan pemerintah untuk menyampaikan keterbukaan informasi. Peran media ini dapat dimanfaatkan sebagai layanan publik secara online untuk menyampaikan informasi yang transparan, efektif, efisien, mendorong partisipasi masyarakat, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan.

Keterbukaan informasi telah diatur dalam Undang-Undang No. 14 tahun 2008. Tujuannya memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi secara cepat, benar dan akurat. Adanya tingkat kerancuan pesan cukup tinggi dalam menyampaikan keterbukaan informasi, media informasi seperti website diharapkan mampu mengatasi ketidakpastian dan ketidakjelasan informasi.

Bagaimana mengatasi kerancuan informasi pada media informasi?. Mengacu pada Media Richness Theory diperkenalkan pada tahun 1986 oleh Richard L. Daft dan Robert H. Lengel.  Media Richness Theory pada awalnya dikembangkan untuk menggambarkan dan mengevaluasi media komunikasi yang digunakan dalam organisasi. Menurut teori ini, media memiliki kemampuan untuk mengatasi ambiguitas seperti pesan yang tidak jelas dan membingungkan, atau interpretasi pesan yang saling bertentangan dan mempermudah makna bersama.


Teori kesempurnaan media menggunakan empat ukuran untuk menggolongkan media organisatoris dalam kaitan dengan daya dukung informasi, yakni:

Kesegeraan (Immediacy)
Kecepatan menghantarkan umpan balik (feedback). Sebuah komunikasi dikatakan lengkap ketika feedback dapat segera diperoleh, adanya feedback mengindikasikan bahwa sebuah pesan diterima dengan baik. Feedback memastikan bahwa setiap kesalahan dalam transmisi dapat segera dikoreksi.

Keragaman Isyarat (Multiple Cues)
Kapasitas untuk menghantarkan berbagai bentuk simbol, baik simbol verbal dan non-verbal.  Terdapat beberapa cara bagi medium komunikasi informasi untuk dapat dicapai dan isyarat itu dapat berupa audio atau visual. Informasi dapat disampaikan melalui beberapa format yakni teks, audio maupun video.

Variasi Bahasa (Language Variety)
Variasi penggunaan bahasa disini adalah banyaknya makna yang dapat disampaikan melalui simbol bahasa yang digunakan semisal angka atau penggunaan bahasa asli.  Informasi yang disampaikan melalu media seperti website mampu disampaikan melalui format konten yang akurat. Adanya tautan, menu dan link membuat website dapat diorganisasikan atau disesuaikan tata letak menunya sesuai dengan kepentingan. Pembangian menu/kanal mengenai keterbukaan informasi dapat dibedakan dengan menu lainnya, hal ini akan mempermudah pencarian informasi.

Sumber Personal (Personal Source)
Sumber Personal yakni nformasi yang disediakan melalui website dapat berupa tautan dan kemudian informasi-informasi tersebut dapat diunduh oleh publik. informasi-informasi yang ada pada website bisa ditemukan melalui tautan, navigasi dan mesin pencari.

Saat ini, diharapkan Badan Publik mampu memberikan informasi mengenai keterbukaan informasi yang mendalam kepada publik, dimana informasi tersebut dapat dilihat dan diamati dengan jelas. Merujuk pada Media Richness Theory, untuk mendukung informasi yang dapat dipertanggungjawabkan sebaiknya empat ukuran diatas ada ketika Badan Publik merancang media keterbukaan informasi. Hal ini bertujuan agar informasi yang disampaikan tidak rancu, serta mampu meminimalisir informasi yang membingungkan publik, atau interpretasi pesan yang saling bertentangan.(david)

 

 sumber gambar : pixabay.com