Pentingnya mekanisme gatekeeping dalam pekembangan berita

Pentingnya mekanisme gatekeeping dalam pekembangan berita

Istilah gatekeeping pertama kali dipublikasikan oleh psikolog Jerman Kurt Zadek Lewin (1947). Lewin menguraikan secara umum dalam teorinya setelah ia meninjau gatekeeping melalui contoh bagaimana makanan dari toko kelontong menuju ke meja makan. Situasi ini tidak hanya berlaku untuk saluran makanan tetapi juga untuk sebuah berita melalui saluran komunikasi tertentu dalam kelompok, dan gerak sosial individu dalam banyak organisasi (Shoemaker J. dkk., 2009:110).

Akhir-akhir ini kita memang banyak disuguhkan berita tentang wabah virus corona (covid19), informasi tentang wabah ini bisa kita dapatkan melalui berbagai media baik televisi, surat kabar dan sosial media. Informasi mengenai perkembangan wabah ini menjadi topik yang paling menarik untuk disimak oleh publik saat ini, terlebih World Health Organization (WHO) menetapkan  virus corona menjadi pandemic global. Rasa kekhawatiran tentang kondisi dan cara antisipasi penyebaran wabah virus ini tentu menjadi topik yang bisa dibilang paling dicari dan dibutuhkan oleh masyarakat. Harapannya, masyarakat memiliki cara untuk membuat keputusan terkait kesehatan diri dan orang-orang disekitarnya. Seperti halnya langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk memutus mata rantai virus ini.

Berbagai informasi tentang kebijakan dan mekanisme resmi dari pemerintah menjadi tolak ukur masyarakat saat ini sekaligus sebagai sistem filter dan aturan yang memberikan batasan-batasan. Seperti halnya penerapan social distancing, physical distancing, penggunaan masker, work from home yang harus diterapakan oleh masyarakat.

Banyaknya informasi dan perspektif dari berbabagai media tentang wabah ini, menyulitkan masyarakat untuk memilah mana berita yang benar-benar akurat informasinya untuk dijadikan pedoman. Sebab, akhir-akhir ini banyak sekali informasi yang tidak melibatkan adanya peran krusial dari para penjaga gerbang (gatekeepers), yakni para eksekutif media dalam memproduksi berita. Sehingga banyaknya informasi hoax yang beredar di masyarakat, kemudian semakin diperparah karena informasi tersebut disebarluaskan melalui sosial media, aplikasi chatting dan pesan berantai. Kemudian muncul sikap saling klaim dan perdebatan tentang benar atau tidaknya informasi yang justru tidak memberikan solusi sama sekali namun semakin memperkeruh situasi dan menimbulkan kepanikan ditengah-tengah masyarakat.

Mekanisme gatekeeping menjadi inti dalam pengawalan perkembangan berita dimana prosedurnya melibatkan aktivitas-aktivitas gatekeeping yang difungsikan untuk memilih dan memilah, mengurangi, meniadakan serta memutuskan informasi-informasi apa saja yang disetujui untuk dibagikan kepada masyarakat. Dalam artian, informasi yang sampai ke masyarakat benar-benar berita yang layak dikonsumsi dan tentu informatif. Sangat disayangkan memang ditengah penyebaran wabah virus  yang begitu masif, masih banyak media daring berlomba cepat dalam memproduksi berita, kemudian meloloskan berita dan menggabaikan mekanisme gatekeeping  hanya untuk mengejar clickbait.

Oleh karena itu, hal yang bisa kita lakukan sekaligus tugas berat kita sebagai masyarakat saat ini ialah, kita dituntut utuk memiliki kemampuan untuk memilah informasi, tujuannya agar informasi hoax tidak tumbuh subur dilingkungan kita. Kita harus bertindak seolah-olah sebagai gatekeepers dalam media, artinya  kita mampu memutuskan informasi-informasi yang kita terima benar atau tidak, layak atau tidak untuk kita konsumsi dan bagikan kepada orang-orang di sekitar kita.

Gambar konsep Gate keeping Theory

Gambar: Konsep Gate Keeping Theory

Proses gatekeeping ibarat seorang koki dalam sebuah restoran, ia harus mampu memilah-milah bahan, memberikan rasa yang sesuai serta menyajikan makanan yang layak untuk dikonsumsi oleh konsumen yang makan di restorannya. (david)


sumber gambar: pixabay.com