Karakteristik media sosial sebagai ruang publik dan politik identitas

Karakteristik media sosial sebagai ruang publik dan politik identitas

Media sosial bisa digolongkan sebagai ruang publik yang digunakan manusia untuk melakukan berbagai interaksi komunikatif. Konsep ruang publik sebagai media komunikatif yang demokratis telah diungkapkan oleh Jurgen Habermas seorang filsuf Jerman pengikut Mazhab Frankfrut yang lebih dikenal sebagai Mazhab teori kritis. Di dalam ruang publik ini masyarakat bisa mengungkapkan opini, gagasan, bahkan kritik terhadap suatu hal dengan bebas. Pendekatan tersebut saat ini benar-benar bisa terlihat pada penggunaan media sosial di internet.

Media sosial seperti facebook, twiter, blog, dan berbagai macam platform media sosial yang menjadi trend sekarang sudah menjadi ruang publik yang populer yang dipakai masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas komunikasi. Komunikasi yang terbangun di media sosial bisa sangat beragam bentuk, maksud, dan tujuannya. Habermas menyatakan bahwa terdapat tiga syarat munculnya ruang publik, yaitu: ketiadaan status, kepentingan bersama, dan inklusivitas.

Identitas adalah aktivitas politik dalam arti luas yang secara teoritik menemukan pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dirasakan kelompok tertentu dalam situasi sosial tertentu - Cressida Heyes. Politik identitas adalah kebangkitan baru dari gerakan perlawanan terhadap globalisasi. Di media sosial politik identitas bisa dimainkan, politik identitas  yang dilakukan di media sosial dapat membentuk opini dan menggiring masyarakat, oleh karenanya serangan menggunakan politik identitas di media sosial adalah keniscayaan yang harus siap dihadapi.

Perkembangan politik dan perebutan kekuasaan tetap hanyalah perebutan antar elit yg berada dan memiliki akses dalam sistem. Mereka jugalah yang menentukan strategi apa yg hendak mereka pakai, dan seringkali yg paling efektif adalah politik identitas atau Politik Ethnicity menurut Samuel P.Huntington. (df)

Sumber: Berbagai Sumber
Sumber Gambar: www.pexels.com