Kebijakan standar komunikasi organisasi pada setiap akun media sosial karyawan

Kebijakan standar komunikasi organisasi pada setiap akun media sosial karyawan


Bicara tentang media sosial saat ini memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan oleh masyarakat, faktor kemudahan akses dan penggunaanya menjadikan sosial media begitu familiar di semua kalangan. Saat ini penggunaan sosial media sudah merambah ke hampir seluruh aktivitas kehidupan dan juga pekerjaan, tidak terkecuali organisasi dan juga perusahaan, dibandingkan media konvensional, media sosial memiliki potensi yang lebih besar dalam produksi dan persebaran informasi secara lebih merata.

Penggunaan media sosial tentu memiliki dampak bagi penggunanya, secara ringkas dampak positif dari media sosial yakni menjadi sarana sebagai media informasi, hiburan, media promosi. Dampak negatif media sosial bagi penggunanya ialah penggunaan media sosial yang berlebihan dan tidak terkontrol berpengaruh pada sikap, pola pikir, perilaku penggunanya.

Bagaimana jika perusahaan menerapkan kebijakan standart  komunikasi organisasi pada setiap akun media sosial setiap karyawannya?  tentu kebijakan ini akan menimbulkan pro-kontra bagi karyawan itu sendiri, sebab penggunaan media sosial sudah menjadi konsumsi publik sehari-hari yang sifatnya personal dan salah satu yang menjadi kebutuhan karyawan dalam hal akses informasi .

Untuk meminimalisir pro-kontra tentang hal ini,  perusahaan harus menjadikan kebijakan ini bukan sebagai bentuk larangan tapi lebih kearah  bagaimana organisasi harus memberikan informasi mengenai batasan-batasan atau etika bersosial media, apa saja yang harus dijaga karyawan, memberikan himbauan kepada karyawan untuk senantiasa menjaga komunikasi di sosial media.  Seperti halnya menghimbau karyawan untuk tidak memposting statement atau pernyataan pribadi mereka yang bertendensi negatif untuk pencitraan kredibilitas dan reputasi  perusahaan.  Keterpautan antara akun media sosial pribadi para karyawan dengan organisasi inilah yang membawa risiko-risiko baru bagi organisasi,  karyawan harus menyadari bahwasanya karyawan adalah duta dari organisasi tempat mereka bekerja, baik selama berada di dalam ruang lingkup perusahaan atau di luar perusahaan.

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, rata-rata orang  Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses . JobStreet.com melakukan survei kepada 17,623 koresponden tentang kepuasan karyawan terhadap pekerjaan mereka. Dari hasil survei tersebut menunjukan bahwa 73% karyawan merasa tidak puas dengan pekerjaannya dikarenakan beberapa faktor.

Sekarang ini Human Resources Departement  (HRD) menjadikan sosial media sebagai cara jitu untuk mengetahui sikap dan perilaku calon karyawannya. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Harrir Interactive, sekitar 2 dari 5 perusahaan menggunakan media sosial untuk mencari tahu kandidatnya. 43% dari perusahaan mengatakan bahwa mereka tidak akan merekrut kandidat tersebut apabila ditemukan hal-hal yang senonoh.

Platform media sosial dari masing-masing karyawan tentu saja dapat diberdayakan sebagai media promosi perusahaan, media diskusi dan sarana interaksi antar karyawan.  Semua tergantung pada  kebijakan komunikasi perusahaan, termasuk diantaranya bagaimana perusahaan menggangap pentingnya keberadaan media sosial itu bagi perusahaan, pada hakikatnya teknologi diciptakan untuk membatu dan memudahkan kerja manusia, maka dari itu kita sebagai pengguna diharapkan untuk menggunakan sosial media secara bijak.(df)

Sumber : berbagai sumber