Kompetisi Bisnis Televisi di Indonesia

Kompetisi Bisnis Televisi di Indonesia

Pertumbuhan industri televisi berkembang pesat dalam beberapa tahun ini, persaingan bisnis membuat bisnis televisi semakin dinamis. Para pemilik modal menanamkan modalnya secara besar-besaran pada industri ini dan menjadikan televisi menjadi industri yang padat modal.

Banyaknya stasiun televisi swasta bermunculan akhir-akhir ini menyebabkan persaingan antar stasiun televisi semakin bertambah ketat. Semua stasiun televisi berlomba dan berusaha menyajikan program-program terbaiknya, tujuanya tidak lain untuk ditonton banyak orang dan ditonton selama mungkin. Bagi stasiun televisi swasta baik lokal maupun nasional, banyaknya penonton akan memudahkan stasiun televisi mendapatkan iklan, dimana iklan menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar stasiun televisi saat ini. Hal ini pula yang menyebabkan banyak pihak yang ingin terjun ke industri televisi.

Maraknya pertumbuhan televisi swasta tentu tidak terlepas dari aspek ekonomis dan politis yang menjadi magnet bagi industri pertelevisian. Besarnya belanja iklan yang dibelanjakan ke televisi, menjadi incaran pemilik modal untuk berinvestasi dalam bisnis ini. Kecenderungan dominasi pasar oleh beberapa perusahaan besar terjadi melalui dua proses yaitu konsentrasi dan konglomerasi media, yang pada akhirnya melahirkan kepemilikan beberapa stasiun televisi hanya dimiliki oleh sedikit orang yang menguasai modal. Seperti halnya Trans7 dan Trans TV berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp yang dikuasai oleh Chairul Tanjung. Global TV, RCTI dan MNC TV bergabung dalam Group MNC dengan pemilik Hary Tanoesoedibjo. TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group dengan pemilik Aburizal Bakrie. Selanjutnya SCTV, O Chanel dan Indosiar bernaung di bawah bendera EMTEK yang dimiliki oleh Eddy Kusnadi Sariaatmadja.



Dalam hal tayangan pengaruh kapitalisme media ini akan berakibat pada munculnya keseragaman dalam hal isi siaran, media yang tergabung dalam satu group tertentu biasanya isi berita dan informasi yang disampaikan kepada publik akan sama. Kemunculan rating dan share dalam tayangan televisi juga menjadi acuan produksi acara yang seragam. Selain hal tersebut, kepemilikan media yang dikuasasi oleh kelompok kapitalis memungkin opini publik akan dikuasai oleh segelintir orang (pelaku media) yang pada gilirannya akan dipergunakan oleh pemilik untuk kepentingan pribadinya baik secara ekonomi, sosial dan politik.

Kepemilikan media harus diatur secara lebih baik, izin penyiaran harus dikeluarkan dengan berdasarkan pada azas kemanfaatan pada publik selaku pihak yang berdaulat di ruang publik tempat di mana frekuensi berada. Pengeluaran izin harus dilakukan dengan proses terbuka, sehingga tidak terdapat lagi kecurigaan bahwa frekuensi televisi hanya diberikan kepada kelompok-kelompok tertentu saja. (david.f)

Diversity Of Content dan Diversity Of Ownership dalam penyiaran

Ekonomi media dalam industri media massa

Sumber: berbagai sumber
Sumber gambar: unsplash.com